Wisata Bahari Hiu Paus Berdasarkan Data Ilmiah

wisata bahari hiu paus indonesia
Hiu Paus (Rhincodon typus). (Sumber: publidomainpictures.net)

Wisata bahari Hiu Paus harus didukung oleh data ilmiah. Oleh karena itu, lembaga CI meluncurkan aplikasi pelacak hiu paus dan database Photo ID. Hal ini penting untuk melestarikan spesies Hiu Paus, menjaga kesehatan ekosistem laut serta mengembangkan ekowisata berbasis Hiu Paus atau wisata bahari Hiu Paus.

Hiu Paus (Rhincodon typus) merupakan ikan terbesar di dunia. Ikan hiu dipercaya oleh para peneliti dapat tumbuh mencapai panjang 18 meter, dengan berat lebih dari 20 ton. Keberadaan ikan ini dianggap penting oleh dunia internasional sehingga secara khusus memperingati International Whale Shark Day setiap tanggal 30 Agustus 2016.

Secara internasional, populasi Hiu Paus rawan ancaman kepunahan (dalam konvensi internasional CITES masuk dalam Apendiks II) karena banyak diburu untuk sirip dan minyaknya. Padahal, nilai pemanfaatan spesies ini melalui pengembangan wisata bahari jauh lebih besar jika spesies ini dipertahankan hidup di habitat aslinya.

Informasi ilmiah tentang Hiu Paus belum banyak diketahui, termasuk keberadaannya di perairan Indonesia. Belakangan ini, ada gejala pemunculan Hiu Paus di beberapa perairan nusantara. Hal ini mengindikasikan bahwa ikan Hiu Paus hidup di sini. Oleh sebab itu, Conservation International (CI) bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan Perikanan melakukan penelitian Hiu Paus. Dengan mengetahui informasi ilmiah yang lebih detail, pengelolaan keberlanjutan spesies ini dapat dilakukan dengan lebih baik. Pada saat yang sama, pemanfaatannya bagi wisata bahari Hiu Pasu bisa lebih dikembangkan secara maksimal. Demikian menurut siaran pers CI yang diterima redaksi (21/9).

Status dan Potensi Wisata Bahari Hiu Paus

Untuk menjaga kelestarian spesies kharismatik ini, Pemerintah Indonesia telah menetapkan Hiu Paus menjadi hewan dilindungi melalui Keputusan Menteri Kelautan No. 18/KEPMEN-KP/2013. Walaupun sudah dilindungi, pemanfaatan ikan jenis ini untuk kepentingan pariwisata bahari dengan tata cara yang sesuai tetap diperbolehkan. Tata cara interaksi selama kegiatan pariwisata dan menyelam dengan hiu paus perlu diperhatikan dengan baik. Dengan demikian, aktivitas wisata bahari Hiu Paus tidak mengganggu perilaku spesies tersebut dan mendukung keberlanjutannya.

Hiu Paus
Berenang bersama Hiu Paus. (Sumber: blog.conservation.org)

“Salah satu permasalahan mendasar yang penting dalam pengelolaan Hiu Paus adalah keterbatasan data dan informasi tentang status populasi dan pola migrasinya. Sehingga diperlukan dukungan banyak pihak dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, informasi lengkap terkait spesies ini perlu banyak diketahui guna mendukung pelestarian dan pengelolaan ekowisata berbasis hiu paus di Indonesia.” Demikian ungkap Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan Andi Rusandi.

Sebagai mitra Pemerintah Indonesia, sejak tahun 2014, Conservation International (CI) Indonesia melakukan beberapa penelitian terkait hiu paus di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mendukung upaya pelestarian dan pengelolaan pariwisata berbasis Hiu Paus (wisata bahari Hiu Paus). Ekowisata ini berpotensi cukup menjanjikan. Sebagai contoh, Maladewa mencatat pemasukan sebesar 7,6 juta US$ (2012) dan 9,4 juta US$ (2013) dari pembelanjaan langsung wisatawan di Kawasan Konservasi Laut South Ari.

Penelitian Hiu Paus

“Hiu Paus merupakan satu dari jenis ikan yang informasi biologis, perilaku, dan kehidupannya sangat sedikit diketahui. Oleh karena itu, untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah spesies kharismarik ini, kami melakukan beberapa hal. Diantaranya yaitu pemasangan tag satelit untuk mengamati pergerakan hiu paus di kawasan Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua Barat, pembuatan database photo ID di website BLKB  untuk mendukung monitoring populasi hiu paus di BLKB, serta kerjasama dengan Akuarium Georgia di Atlanta, Amerika Serikat, dalam pengembangan pengetahuan ilmiah tentang hiu paus di Indonesia, khususnya untuk mengkaji tingkat gangguan dari aktivitas pariwisata terhadap kesehatan hiu paus”, ujar Victor Nikijuluw, Marine Program Director, CI Indonesia.

Sejak Desember 2015, CI Indonesia mendokumentasikan pergerakan mengagumkan dari hiu paus yang diamati di kawasan BLKB. Satu diantaranya adalah melewati Pulau Yap ke selatan Palung Mariana – palung terdalam di dunia (10.994 meter). Pergerakan-pergerakan hiu paus tersebut dapat diamati di Aplikasi Pelacak Hiu Paus yang diluncurkan oleh CI pada bulan Juni 2016.

Selain itu, CI Indonesia juga mengembangkan Database Photo ID Hiu Paus yang menjadi platform pengumpulan foto-foto hiu paus oleh para penyelam di BLKB. Upaya ini dilakukan untuk mendukung upaya monitoring populasinya di kawasan tersebut. Sejumlah informasi dari Aplikasi Pelacak Hiu Paus maupun Database Photo ID tersebut diharapkan dapat memberi masukan dan menjadi landasan dalam pengelolaan dan pengembangan wisata bahari Hiu Paus.

Victor menambahkan pula bahwa mengingat pentingnya potensi pariwisata yang dimiliki hiu paus bagi Indonesia, maka menjadi penting untuk melakukan berbagai studi terkait hiu paus. CI telah membangun kerjasama dengan Akuarium Georgia untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah tentang hiu paus di Indonesia. Terutama untuk meninjau faktor kesehatan Hiu Paus guna menghasilkan informasi dasar tentang kesehatannya. Selain itu, juga untuk memastikan kelangsungan hidup Hiu Paus selama kegiatan penandaan (tagging).

teluk cenderwasih
Peta Taman Nasional Teluk Cenderwasih. (Sumber: wikimedia.org)

Temuan Penelitian Terkini

Ben Gurion Saroy, Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih menyampaikan bahwa meskipun pengembangan penelitian tentang Hiu Paus telah dimulai sejak tahun 2011, namun informasi tentang hiu paus masih sangat terbatas.

“Dukungan penelitian dari CI Indonesia diharapkan dapat terus memperkuat upaya pelestarian serta kelola ekowisata berbasis Hiu Paus (wisata bahari Hiu Paus-red). Khususnya dalam tata cara interaksi dalam pariwisata selam bersama ikan raksasa ini”, tutupnya.

Terdapat beberapa hasil temuan penelitian terkini oleh CI. Pertama, bahwa mayoritas Hiu Paus di Teluk Cenderawasih menghabiskan waktu di perairan Kwatisore. Namun sejak Desember 2015, beberapa pergerakan baru teramati. Pergerakan tersebut antara lain yaitu satu penyelaman ke palung laut terdalam dunia. Kemudian, satu pergerakan melewati Palau hingga ke Pesisir timur Filipina di Pulau Mindanao. Pergerakan dua ekor Hiu paus melalui bagian “kepala” dari Kepala Burung Papua hingga ke perairan Raja Ampat.

Jika kamu tertarik dengan wisata bahari, baca juga artikel wisata Pulau Banyak di Aceh.

Kedua, informasi biologis dan reproduksi Hiu Paus belum banyak diketahui. Hiu Paus umumnya hanya memangsa ikan-ikan kecil (ikan puri), krustasea planktonik, telur ikan di beberapa lokasi agregasi. Hiu Paus makan dengan cara menyaring mangsanya menggunakan lima pasang insang. Hiu Paus seringkali dijumpai makan dengan berenang dengan membuka mulutnya atau secara aktif menyedot air laut. Kemudian dikeluarkan lagi melalui insangnya.

Ketiga, seperti di wilayah agregasi-agregasi lainnya di dunia. Hiu Paus di Indonesia yang berkumpul di perairan dangkal didominasi oleh jenis kelamin jantan yang belum dewasa. Lokasi-lokasi agregasi ini kemudian dimanfaatkan oleh wisatawan yang mencari kesempatan untuk berenang bersama Hiu Paus.

Ke empat, kemunculan Hiu Paus di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo membuktikan manfaat besar wisata bahari Hiu Paus bagi masyarakat. Namun, tata cara pariwisata berbasis Hiu Paus perlu diperhatikan. Hal ini dilakukan guna memastikan bahwa kegiatan jenis wisata alam ini tidak mengganggu perilaku Hiu Paus dan memberi manfaat berkelanjutan.

(Baca juga berbagai tempat wisata di Bali yang menawarkan keindahan panorama alam).

Sumber:

1.Tulisan bersumber dari siaran pers oleh CI Indonesia yang diterima oleh redaksi. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut tentang CI, silahkan klik Conservation International.

2.Jika ada pertanyaan lebih lanjut terkait berita ini, silakan hubungi: Abraham Sianipar.
Elasmobranch Conservation Coordinator, Conservation International Indonesia. Email: asianipar@conservation.org

2.Gambar yang digunakan sebagai ilustrasi diperoleh dari sumber sebagaimana tersebut dalam keterangan gambar.

Summary
Wisata Bahari Hiu Paus Berdasarkan Data Ilmiah
Article Name
Wisata Bahari Hiu Paus Berdasarkan Data Ilmiah
Description
Wisata bahari Hiu Paus harus didukung oleh data ilmiah. Oleh karena itu, lembaga CI meluncurkan aplikasi pelacak hiu paus dan database Photo ID.
Author
Publisher Name
Blog Lingkungan Hidup
Publisher Logo
Tentang Editor 107 Articles
Editor Lingkungan Hidup

1 Trackback / Pingback

  1. Ikan Hiu Berjalan Di Indonesia dan Upaya Perlindungannya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.




This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.