Melepasliarkan Owa Jawa ke Habitatnya

Owa jawa yang dilepas
Keluarga Owa (Wili, Sasa, Jatna) sesaat sebelum dilepasliarkan. Foto: Conservation International.

Lima individu owa jawa dilepasliarkan ke hutan lindung Gunung Malabar, Jawa Barat, hari ini (24/10) setelah direhabilitasi selama lima sampai tujuh tahun di Javan Gibbon Center di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Demikian siaran pers yang diterima oleh redaksi.

Hal ini menjadi upaya nyata pada Hari Owa Internasional disaat populasinya di alam saat ini masih terancam karena perburuan dan perdagangan serta habitat mereka di Pulau Jawa yang tersisa tidak lebih dari 5%. Inisiatif ini dilakukan oleh Yayasan Owa Jawa yang berdiri sejak tahun 2001, beserta mitra – Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Perum Perhutani, Conservation International Indonesia, Silvery Gibbon Project dan Pertamina EP Subang asset 3 Subang Field.

Baca juga artikel tentang Hewan Langka Indonesia di Ambang Kepunahan.

Pelepasaliaran dilakukan pada dua keluarga yaitu keluarga Wili-Sasa dan anaknya Jatna yang lahir di pusat rehabilitasi serta pasangan Asep-Dompu. Sebelum dilepasliarkan mereka menjalani proses habituasi selama dua bulan di Gunung Puntang, Hutan Lindung Gunung Malabar. Owa jawa masih menjadi target perburuan untuk dijadikan peliharaan. Pemerintah telah meminta kepada masyarakat yang memiliki, memelihara dan memperdagangkan satwa primata untuk dikembalikan secara sukarela melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat. Siapapun yang melakukannya berarti melanggar hukum UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Owa jawa merupakan salah satu dari 25 satwa prioritas yang menjadi target sasaran strategis Ditjen KSDAE yang tertera pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019.

Baca berita tentang kematian tiga ekor pesut akibat jaring nelayan di Kalimantan Barat.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, KLHK, Ir. Wiratno, MSc. mengatakan “Kami harap kegiatan pelepasliaran ini dapat meningkatkan populasi owa.” Wiratno menambahkan, “Saat ini tidak hanya populasi owa jawa beserta habitatnya di Jawa Barat yang perlu mendapatkan perhatian, namun juga populasi kecil di Jawa Tengah seperti di Pegunungan Dieng dan Gunung Slamet di Jawa Tengah. Oleh karena itu selain pelepasliaran, perlu juga didorong pembentukan habitat baru guna menjamin keberlangsungan hidup mereka.”

Kolaborasi Multi Pihak

Pelepasliaran ini tidak akan terjadi tanpa kolaborasi yang kuat antara UPT Ditjen KSDAE, Yayasan Owa Jawa, Conservation International, Silvery Gibbon Project, dan Pertamina EP, yang peduli akan kelestarian spesies endemik Pulau Jawa ini. “Kami sangat mengapresiasi kinerja dan upaya semua mitra dalam melestarikan owa jawa dan habitatnya,” sambut Wiratno. Selain itu pusat rehabilitasi juga sudah membantu mengedukasi dan meningkatkan kesadaran atas ancaman yang dihadapi owa jawa.

Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy M. Mauna menjelaskan bahwa beberapa kawasan hutan lindung Perum Perhutani merupakan habitat owa jawa, tidak hanya di Jawa Barat namun juga di sebagian di Jawa Tengah. Oleh sebab itu, Perhutani berkomitmen untuk melestarikan owa jawa sekaligus mempertahankan habitatnya. Hutan lindung yang terjaga baik, dapat menyediakan air bagi daerah-daerah disekitarnya, termasuk bagi penduduk di perkotaan.

Baca artikel: Manfaat Tumbuhan dan Satwa Liar.

Keterlibatan Perhutani tidak saja penting sebagai pemangku dan pengelola kawasan hutan Gunung Puntang, tetapi juga strategis untuk mengembangkan model bisnis yang berkelanjutan. Sebagai BUMN, Perhutani harus menjadi pelopor pembangunan, termasuk pelopor bidang lingkungan. Mempertahankan atau melindungi ekosistem dengan keanekaragaman hayati tetap baik atau menjadi lebih baik memerlukan kepeloporan juga.

Selain perlindungan terhadap owa jawa, sebagai entitas bisnis, Perhutani telah membuktikan kepada masyarakat nasional maupun internasional bahwa kepedulian kepada satwa-satwa yang dilindungi dan terancam punah lainnya juga telah dilakukan secara nyata. “Selain itu keberhasilan konservasi owa jawa maupun satwa lainnya sangat berkaitan denggan dukungan dan peran serta masyarakat setempat,” demikian Denaldy menegaskan.

foto pelepasan owa
Foto bersama dengan KLHK, BBKSDAE, BBTNGGP, Perhutani, Pertamina, YOJ.

Achmad Alfian Husein, Exploration & New Discovery Project Director, PT. Pertamina EP menyatakan, “Perusahaan kami berkomitmen mendukung kegiatan pelestarian alam seperti rehabilitasi owa jawa.” Pertamina telah mendung dan bekerja sama dengan YOJ sejak 2013. Dukungan yang dilakukan seperti pendanaan untuk program reintroduksi dan penyadartahuan konservasi.

Jika anda tertarik, silahkan baca artikel cara melestarikan satwa langka dalam kehidupan sehari-hari.

“Owa jawa merupakan spesies karismatik yang memiliki peran penting dalam merestorasi hutan secara alami dengan menyebarkan benih yang membantu menjaga kesehatan hutan dan penting sebagai penyedia makanan, air bersih, obat-obatan, mata pencaharian dan ketahanan iklim bagi masyarakat. Agar konservasi berhasil dilakukan, kita harus mengedukasi masyarakat luas mengenai kekayaan alam yang dimiliki dan membangun pengelolaannya. Kami di CI sangat senang dapat berkontribusi untuk kesuksesan dalam kolaborasi dengan pemerintah Indonesia dan semua mitra di program konservasi owa dan bentang alam,” ujar Ketut Sarjana Putra, Vice President Conservation International Indonesia.

Bukan Pertama Kali

Pelepasliaran ini adalah yang kelima dilakukan oleh Yayasan Owa Jawa, yang sebelumnya telah melepasliarkan 14 individu sejak tahun 2013. Ketua pengurus YOJ, Noviar Andayani menyatakan, “Upaya pengembalian owa jawa ke habitatnya bukanlah perkara mudah. Oleh sebab itu, kemitraan dan dukungan berbagai pihak sangat diperlukan untuk menyelamatkan primata ini dari kepunahan. Hasil positif paska dilepasliarkan, ditandai adanya peristiwa kelahiran owa di alam pada tanggal 14 januari 2017 lalu di Gunung Puntang, Hutan Lindung Gunung Malabar.”

Jika anda tertarik untuk mengetahui spesies satwa paling besar di bumi, silahkan baca artikel berjudul hewan terbesar di dunia di blog lingkungan hidup ini.

Tentang Editor 106 Articles
Editor Lingkungan Hidup

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.




This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.