Jenis Ikan Hiu Berjalan Di Indonesia dan Upaya Perlindungannya

ikan hiu berjalan
jenis ikan hiu berjalan

Jenis Ikan Hiu Berjalan ada di Indonesia terdiri dari lima spesies dari sembilan spesies jenis Hiu Berjalan yang ada di dunia. Analisis CI terhadap sembilan spesies Ikan Hiu Berjalan mengindikasikan perlunya peningkatan status perlindungan. Demikian menurut siaran berita Conservation International yang diterima redaksi (11/1).

Ikan Hiu Berjalan berbeda dibandingkan jenis hiu umumnya. Semua pasti mengetahui bahwa ikan hiu pasti bisa berenang. Namun, beberapa spesies terlihat bisa berjalan sehingga sering disebut Ikan Hiu Berjalan atau Walking Shark. Disebut sebagai Ikan Hiu Berjalan karena gerakannya di dasar laut menggunakan sirip-siripnya untuk bergerak. Sehingga terlihat melata atau berjalan, utamanya di perairan dangkal dan umumnya bisa dilihat pada malam hari. Kelompok Hiu Berjalan secara taksonomi sering disebut dengan Hiu bambu (bamboo shark) dan termasuk dalam Genus Hemiscyllium.

Jenis Ikan Hiu

Ikan Hiu Berjalan memiliki habitat di perairan atau lautan Indonesia yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Dari sembilan spesies yang dikenal di dunia, lima spesies sudah berhasil ditemukan dan diidentifikasi berada di perairan Indonesia. Empat spesies endemik atau hanya ada di Indonesia.

Keempat jenis tersebut yaitu Hiu Berjalan Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti), Hiu Berjalan Teluk Cendrawasih (H. galei), Hiu Berjalan Halmahera (H. halmahera), dan Hiu Berjalan Teluk Triton Kaimana (H. henryi). Satu spesies lainnya yaitu H.trispeculare ditemukan di perairan Aru Maluku walaupun juga dapat ditemukan di pantai utara dan barat Benua Australia.

Ikan Hiu Berjalan endemik Indonesia dari jenis Hemiscyllium freycineti ditemukan pertama kali di Raja Ampat pada tahun 1824. Pada tahun 2008, H. henryi ditemukan di perairan Kaimana dan H. galei ditemukan di Teluk Cenderawasih. Sedangkan H. halmahera ditemukan perairan Halmahera pada tahun 2013.

Penelitian Perilaku Hiu

Studi yang dilakukan Conservation International (CI) bersama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Western Australian Museum, dan California Academy of Science terhadap sembilan spesies hiu berjalan tersebut sementara ini menyimpulkan bahwa daerah sebaran sembilan spesies hanya ternyata terbatas di wilayah cincin utara Benua Australia, Papua Nugini, Perairan Papua Barat, Halmahera, dan Aru. Temuan yang didukung oleh Mark Erdmann dan Gerald Allen dari CI dan Western Australian Museum ini merupakan perkembangan hasil temuan sebelumnya yang menunjukkan daerah sebaran yang luas dari bagian utara Benua Australia, Papua Nugini, hingga Seychelles di Samudera Hindia dan Pulau Solomon di Pasifik.

Monitoring berkala terhadap Ikan Hiu Berjalan yang dilakukan oleh CI di perairan Papua Barat menyimpulkan bahwa populasinya terancam karena terbatasnya daerah sebaran. Akibatnya, spesies unik ini lebih mungkin terpapar terhadap ancaman setempat. Ancaman tersebut berupa penangkapan ikan yang tidak bertanggung jawab, tumpahan minyak, peningkatan suhu, bencana seperti angin siklon dan tsunami, kerusakan pantai, pembangunan wilayah pesisir dengan cara reklamasi, serta perkembangan industri pariwisata yang tidak memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Wisata Hiu

Marine Program Director CI Indonesia Victor Nikijuluw mengungkapkan bahwa selain potensi wisata bahari hiu paus dan hiu konvensional, Hiu Berjalan juga memiliki potensi.

“Melalui snorkling atau berperahu di perairan dangkal, Hiu Berjalan akan mudah dijumpai. Namun karena spesies ini mudah ditemukan, ancaman keberlanjutannya juga semakin besar. Karena itu, sebaiknya spesies ini tidak diganggu ketika kita sedang berwisata di pesisir. Kita juga jangan merusak terumbu karang serta padang lamun yang merupakan habitat serta tempat mereka memijah. Kerusakan habitat dapat mengancam kelestariannya. Sedangkan bila dikonservasi dengan baik maka kehadiran spesies ini akan menjadi pesona pariwisata yang unik dan meningkatkan nilai pariwisata,” Ungkap Victor.

Sementara itu pakar hiu dari LIPI, Fahmi, menjelaskan bahwa sebaran Hiu Berjalan yang terbatas antara lain disebabkan karena memiliki sifat biologi yang unik, tidak seperti spesies ikan terumbu karang lain. Kelompok ikan hiu ini memiliki kemampuan berenang yang terbatas dan amat tergantung pada habitat dan kedalaman tertentu sehingga tidak sanggup bergerak jarak jauh dan tidak memiliki potensi sebaran yang tinggi. Selain itu, tipe reproduksi dari kelompok hiu ini adalah dengan meletakkan telurnya pada substrat tertentu untuk kemudian menetas dan berkembang menjadi menjadi individu dewasa pada habitat yang sama.

Perlunya Perlindungan

Fahmi menambahkan bahwa hasil temuan ini akan dikomunikasikan kepada pemerintah daerah sebagai pengelola kawasan pesisir untuk mendorong perlindungan bagi spesies hiu berjalan di Indonesia.

“Sejauh ini, baru spesies Hemiscyllium freycineti yang ada di Raja Ampat yang termasuk hewan dilindungi menurut Perda Raja Ampat No. 9 Tahun 2012 mengenai Larangan Penangkapan Ikan Hiu, Pari Manta, dan Jenis-jenis Ikan Tertentu di Perairan Laut Raja Ampat. Padahal, menanggapi ancaman yang dihadapi oleh spesies hiu berjalan, perlu ada perlindungan yang menyeluruh terhadap semua spesies hiu berjalan yang ada di Indonesia.

Saat ini kelompok Hiu Berjalan merupakan kelompok ikan hiu yang sering dijadikan ikan hias dan memiliki nilai jual tinggi di pasaran internasional. Beberapa negara maju bahkan sudah melakukan upaya budidaya spesies hiu berjalan uuntuk kepentingan komersial. Perlunya upaya pengelolaan terhadap jenis hiu ini dan habitatnya amat diperlukan, agar jangan sampai jenis hiu tersebut banyak ditemukan di akuarium-akuarium ikan hias namun sulit ditemukan di habitat aslinya.” tutupnya.

Victor Nikijuluw menyampaikan bahwa CI akan terus bekerjasama dengan penduduk lokal, pemerintah daerah dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam melakukan penelitian dan upaya-upaya konservasi spesies-spesies ini. Rencana Aksi Nasional (RAN) yang sudah dirumuskan terhadap spesies hiu akan diperluas cakupannya, termasuk Hiu Berjalan. Demikian juga, pembangunan pariwisata secara berkelanjutan di Kabupaten Raja Ampat dan Kaimana, Papua Barat akan terus memperhatikan keberlanjutan spesies yang unik ini.

Summary
Jenis Ikan Hiu Berjalan Di Indonesia dan Upaya Perlindungannya
Article Name
Jenis Ikan Hiu Berjalan Di Indonesia dan Upaya Perlindungannya
Description
Jenis Ikan Hiu Berjalan ada di Indonesia terdiri dari lima spesies dari sembilan spesies jenis Hiu Berjalan yang ada di dunia.
Author
Publisher Name
Blog Lingkungan Hidup
Publisher Logo
Tentang Editor 107 Articles
Editor Lingkungan Hidup

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.




This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.