Tak Ada Durian Tanpa Kelelawar (Kalong)

durian dan kelelawar
Buah durian.

Durian sangat tergantung kepada keberadaan hewan jenis kelelawar. Tidak ada panen buah durian tanpa didukung oleh keberadaan populasi kelelawar. Durian juga dimanfaatkan oleh manusia dan memiliki nilai ekonomi penting. Demikian gambaran hubungan simbiosis mutualisme antara durian dan kelelawar.

Durian adalah keanerakaragaman hayati jenis buah yang sangat merakyat, relatif murah dan sangat enak bagi kebanyakan orang. Meskipun begitu, sangat sedikit orang berfikir tentang bagaimana bunga durian berkembang menjadi buah berduri, kemudian memiliki biji berlapis daging lezat di dalamnya. Ya, bagi durian, buah-buahan hutan lainnya, bahkan seperti petai, spesies kelelawar sangat diperlukan. Ironisnya, tidak banyak yang menyadarinya. Kelelawar yang sesungguhnya merupakan “sahabat” alam dan manusia, cenderung ditakuti karena mitos gaib atau diburu atas dasar mitos kesehatan.

Produksi Durian Dipengaruhi Kelelawar

“Produksi buah durian sangat dibantu oleh kelelawar dalam proses penyerbukan sehingga pertumbuhan durian dapat merata di berbagai lokasi. Tanpa disadari, punahnya populasi kelelawar berdampak bagi kehidupan masyarakat, ” Demikian menurut Ibnu Marbiyanto, peneliti LIPI.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Ibnu ketika berlangsung Konferensi Kelelawar Internasional di Bogor, 6 Juni 2011 silam. Konferensi tersebut sendiri dilaksanakan menanggapi menurunnya populasi kelelawar di dunia, termasuk Indonesia.
Menurunnya populasi kelelawar menyebabkan turunnya produksi buah duren.

(Baca: Manfaat Tumbuhan dan Satwa Liar)

Hal ini pernah dialami oleh salah satu daerah produsen buah durian yaitu Kecamatan Sibolangit, Sumatera Utara. Sudah sekitar sepuluh tahun terakhir produksi buah durian dari Sibolangit terus berkurang. Hal ini membuat para pemasok semakin sulit mendatangkan buah jenis ini dari Sibolangit ke Kota Medan. Hal tersebut diduga, terutama, karena semakin menurunnya populasi kelelawar liar di Sibolangit, seperti diakui oleh Ron Ginting.

“Terasa sekali, banyak penangkapan kalong sejak sektar 10 tahun terakhir, produksi buahnya turun drastis sampai bisa dibilang sudah tak ada lagi.” Demikian ungkap Ron Ginting, seperti dikutip dari Medan Bisnis (9/1/14).

Ron adalah seorang yang telah puluhan tahun menjadi agen pengumpul buah berduri khas tropis ini di Desa Namu Riam, Kecamatan Pancur Batu, Deli Serdang. Ia biasa memasok buah durian dari Sibolangit ke Medan. Namun, semenjak krisis buah durian di Sibolangit tersebut, ia mulai mencari dari daerah lain seperti dari Dairi, Tapanuli Selatan hingga Aceh.

bunga durian dan kelelawar
Penyerbukan bunga durian oleh Kelelawar. (Foto: Merlin D. Tuttle)

Penurunan produksi buah berduri sebagai akibat dari menurunnya populasi kelelawar dapat difahami. Kelelawar merupakan hewan yang berperan membantu proses penyerbukan tanaman. Sehingga, ia membantu penyerbukan bunga buah berduri tersebut menjadi buah. Tanpa penyerbukan, maka tak aka nada buah ini.

Selain penurunan produksi durian akibat penurunan populasi kelelawar liar karena diburu, perubahan iklim juga berkontribusi secara tidak langsung untuk proses penyerbukan. Menurut Ibnu, kondisi iklim global yang tak menentu bisa menjadi alasan kelelawar tetap berada di dalam gua sehingga tidak melakukan proses penyerbukan. Jika terjadi hujan, kelelawar akan memilih tinggal di gua dan tidak melakukan penyerbukan.

Populasi Kelelawar Menurun

Selain membantu penyerbukan tanaman, kalong juga menjadi predator alami bagi serangga yang merupakan hama utama padi maupun kangkung. Tidak hanya serangga, kelelawar juga menjadi predator alami tikus. Menuru Ibnu, sekelompok serangga yang ada di suatu gua, mampu menghilangkan jutaan serangga, misalnya nyamuk, dalam sehari.

(Baca: Jenis Tanaman Langka)

Pada tahun 2011, menurut Ibnu, sekitar 5 hingga 10 persen populasi kelelawar Indonesia punah karena ekosistem mereka rusak akibat dijadikan kawasan industri. Perubahan habitat demi mengejar pertumbuhan ekonomi manjadi salah satu ancaman kelestarian spesies nokturnal tersebut.

Kalong dijual bebas
Kelelawar siap jual di salah satu kios di daerah Sembahe, SUmatera Utara. (Foto: lingkunganhidup.co)

Selain perubahan habitat, penurunan populasi juga disebabkan oleh perburuan untuk konsumsi, misalnya yang terjadi di Sibolangit. Penurunan populasi spesies ini di Sibolangit dikarenakan maraknya perburuan dan penangkapan oleh warga untuk dijual ke pasar lokal. Spesies ini dipercayai memiliki khasiat sebagai obat asma, walaupun tidak memiliki basis medis secara ilmiah.

Perburuan kelelawar
Salah satu kios yang menjual Kalong (Kelelawar) di daerah Sembahe, Sumatera Utara.

Bahkan, perburuan dan penangkapan tetap marak dilakukaan hingga saat ini. Tidak sulit untuk menemukannya. Di sepanjang jalan Medan – Berastagi di kawasan Sembahe, kios-kios yang menjual kalong (kelelawar) cukup mudah ditemui. Spesies ini dihargai sekitar 50.000 per ekor. Sayangnya, belum ada tindakan tegas hingga saat ini. Tidak jelas pula, apakah perburuan tersebut memiliki izin dan kuota penangkapan dari BKSDA atau tidak.

Akibatnya, produksi buah berduri khas asia ini, termasuk petai dan buah lainnya, mengalami penurunan sebagaimana terjadi dalam satu dekade terakhir. Memang, belum ada penelitian secara khusus dan komprehensif untuk mengetahui bagaimana efek penurunan populasi kelelawar terhadap produksi durian. Namun, beberapa indikasi telah terlihat.

Sumber:

http://lipi.go.id/berita/single/punahnya-kelelawar-ancam-produksi-durian/6247
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2014/01/09/72168/produksi-durian-sibolangit-turun/

Summary
Tak Ada Durian Tanpa Kelelawar (Kalong)
Article Name
Tak Ada Durian Tanpa Kelelawar (Kalong)
Description
Durian sangat tergantung kepada keberadaan hewan jenis kelelawar. Tidak ada panen buah durian tanpa didukung oleh keberadaan populasi kelelawar.
Author
Publisher Name
Blog Lingkungan Hidup
Publisher Logo
Tentang Editor 107 Articles
Editor Lingkungan Hidup

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.




This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.